About

Sunday, February 12, 2012

MASIH ADAKAH DAYA SAING UNTUK SEKOLAH KITA?

MASIH ADAKAH DAYA SAING UNTUK SEKOLAH KITA?
Pertanyaan ini merupakan sebuah pertanyaan refleksi bagi seluruh insitusi pendidikan / sekolah, bukan hanya sekolah yang di bawah lindungan Yayasan. Sebuah pertanyaan  yang sering kali membuat kita terjebak untuk mencari kambing hitam dalam menemukan jawaban. Ada esensi yang dapat kita gali dari permenungan ini, yakni: apakah yang dimaksud dengan daya saing? Bersaing dalamhal apa?


Pertanyaan ini sempat didiskusikan dalam sebuah diskusi panel yang diselenggarakan oleh MPK (Majelis Pendidikan Katolik) Keuskupan Agung Jakarta pada akhir Agustus 2008. Dalam diskusi tersebut fokus materi adalah mencari jawaban atas pertanyaan dasar : masih adakah daya saing untuk sekolah kita?


Jika pertanyaan ini diajukan kepada kita, para penyelenggara pendidikan, jawaban apakah yang akan disampaikan? Pada umumnya akan menunjuk pada apa yang ada di luar dirinya. Mereka akan mengatakan bahwa pesaing mereka adalah munculnya sekolah-sekolah unggulan, sekolah bertaraf internasional. Atau jika sekolah itu sekolah swasta akan mengatakan pesaingnya adalah sekolah negeri, yang nota bene gratis, atau setidaknya menuntut biaya murah. Ini merupakan kecenderungan umum. Sekolah unggul atau sekolah bertaraf internasional menjadi pesaing karena mereka menawarkan berbagai fasilitas yang jauh lebih baik. Mereka tampil bukan hanya menggunakan pengantar bahasa Indonesia, tetapi juga bahasa Inggris. Mereka hadir dengan menawarkan berbagai program enterpreuner atau ekstra yang menarik bagi peserta didik. Bahkan ada yang mengatakan karena mereka lebih mampu menonjolkan kedisiplinan dan kenyamanan bagi peserta didiknya. Sekolah-sekolah semacam inilah yang akan menjadi ancaman bagi sekolah-sekolah swasta.


Kita  terjebak untuk melhat sisi luar kita. Kita sering kali lupa bahwa saingan yang paling dahsyat dalam dunia pendidikan kita adalah diri sendiri. Jika sekolah-sekolah bagus, sekolah unggulan, sekolah negeri mampu menawarkan berbagai kebutuhan yang diminta publik, mengapa kita tidak mampu memberinya. Benarkah kita tidak mampu? Atau karena kita tidak mau. Yang memprihatinkan adalah kita tidak mau. Kita sudah terlanjur merasa eksis dengan diri kita. Bagaimana kita mengupayakan sungguh terhadap peningkatan SDMnya. Bagaimana kedisiplinan dan kejujuran dalam insitusi pendidikan kita jika sekolah lain menawarkan berbagai fasilitas yang dibutuhkan, mampukah kita menyiasatinya sehingga apa yang dibutuhkan peserta didik dapat terpenuhi? Inilah antara lain dasar untuk mengatakan bahwa masalahnya bukan yang lain, melainkan diri sendiri.


Jika di tempat lain tenaga pendidiknya dapat memperoleh kesejahteraaan, sehingga dapat mengajar dengan tenang, bagaimana sekolah-sekolah swasta mengatasinya?


Pesaing sekolah kita.


Dalam diskusi tersebut disimpulkan bahwa sebenarnya yangmenjadi pesaing sekolah kita bukan yang lain, melainkan kita sendiri. Bagaimana hal itu dipahami? Sebagian besar peserta dengan bangga mengisahkan bahwa sekolah-sekolah Yayasan dahulu menjadi lembaga pendidikan yang dipilih masyarakat. Warga sekolahpun menjadi bangga terhadap sekolahnya. Gurunya bersemangat karena merasa dihargai dan dimanusiakan oleh sekolah. Kesejahteraan mereka terjamin. Sehingga pada masanya seorang guru akan dengan bangga menyebutkan sekolahnya ketika berinteraksi dengan orang lain. Itu sebabnya pada masanya sekolah-sekolah tersebut membuat ”iri” tenaga pendidik dari sekolah lain.


Murid-murid dan orang tua bangga, karena sekolah tempat anak-anak mereka dididik sungguh-sungguh memperhatikan pengembangan kepribadian yang utuh, kedisiplinan yang tinggi dan kejujuran yang dapat dibanggakan. Inilah nostalgia yang terungkap dalam diskusi tersebut. Lantas bagaimana sekarang?


Sekarang ini tampaknya kebanggaan baik para tenaga pendidiknya, masyarakat, orang tua dan peserta didik terhadap pendidikan swasta semakin mengalami erosi. Menjadi guru sekolah swasta rasanya tidak lagi menjadi kebanggaan, karena masa depannya tidak cukup menggembirakan. Sebagian guru merasa tidak termanusiawikan lagi karena mereka merasa seolah menjadi ”tool” institusi untuk meraih kepentingan tertentu. Orang tua dan peserta didik tidak lagi menjadi bangga, karena yang mereka rasakan sekarang lebih pada biaya mahal, tuntutan berat, tetapi kejujuran, kedisiplinan dan pengembangan kepribadian semakin memudar. Masyarakatpun ikut memberikan penilaian terhadap insitiusi pendidkan. Jika dahulu orang banyak yang harus antre sejak jam 05.00 untuk mendaftar sekolah anaknya, agar dapat tiket masuk, masihkah situasi itu dialami sekarang? Apakah yang membuat demikian? Imam Supriyono, adalam bukunya Guru Goblok ketemu Murid Goblok, memberikan satu permenungan, apakah yang membedakan sebelum dan sesudahnya?




Apakah yang dapat dilakukan?


Sekolah dikatakan sebagai sekolah unggul bukan semata-mata terletak pada fasilitas, penampilan. Keunggulan suatu lebaga pendidikan hendaknya tercermin dalam manajemen pengelolaannya. Dalam diskusi tersebut Sr. Yustiana CB menyebutkan ada tiga hal yang cukup penting, yakni:


1.    Sumber Daya Manusia (SDM): keunggulan kompetitif terletak pada kualitas Sumber Daya Manusia. Bagaimana kualitas sumber daya yang dimiliki oleh lembaga pendidikan dan bagaimana dikembangkannya. Sumber daya manusia yang berkualitas menjadi faktor yang menentukan perkembangan suatu persekolahan termasuk juga masa depan peserta didik.


2.    Standar akreditasi institusi kualitas sumber daya manusia memiliki bobot sangat tinggi 9,92 (urutan ke 2). Sumber daya manusia yang ada layak untuk diakreditasi. Pemerintah sekarang melakukan proses sertifikasi, sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas tenaga didik dan menetapkan kualitas tertentu setelah diproses. Bagaimana lembaga pendidikan non pemerintah, Yayasan, menetapkan standarisasi untuk tenaga didiknya? Hal ini menjadi hal yang harusdiprioritaskan.


3.    Kualitas SDM saat ini tidak cukup hanya mempunyai core competence (Kompetensi inti) di bidangnya (mis: marketing, IT, HRD, design, secretary), namun harus dilengkapi dengan Soft Skill, kematangan emosi, excellent personality, dll


4.    Hal lain yang tidak kalah penting, terutama bagi lembaga pendidikan swasta adalah sejauh mana spiritualitas pendiri telah terinternalisasi dalam seluruh insan pendidikan. Setiap sekolah didirikan selalu membawa visi – misi. Visi dan misi digali dari spiritualitas para pelindung atau pendirinya. Jika visi dan misi tersebut sungguh-sungguh menjadi spiritual seluruh stakeholder lembaga pendidikan, maka itu pertanda bahwa kekuatan masih dimiliki. Oleh karena itu , jika sekolah-sekolah swasta tidak ingin tersisih mereka harus berani untuk melakukan berbagai langkah untuk mengatasi hal ini.


Mari berjuang untuk pendidikan, berjuang untuk membantu generasi muda untuk membentuk diri sendiri secara utuh, dan tidak perlu terlalu cemas lagi dengan munculnya banyak sekolah baru. Mari tunjukkan visi- misi kita, kita buktikan komitmen untuk pendidikan. Kita memberi bukan yang diminta, tetapi yang dibutuhkan. Kita berbuat untuk mereka bukan karena mereka senang, tetapi yang memberikan masa depan yang terbaik.


Semoga Tuhan memberkati.........
Robertus S
SMAK Ricci 1 -
(2009)

BELAJAR DARI BOROBUDUR


BELAJAR DARI BOROBUDUR

Candi Borobudur adalah candi peninggalan agama Budha, didirikan oleh raja Samaratungga dari dinasti Syailendra. Candi ini diperkirakan berdiri pada abad VIII, jadi lebih tua dari candi Prambanan. Borobudur termasuk wilayah Kabupaten Magelang Eks Karisidenan Kedu, Jawa Tengah. Letaknya yang strategis membuat Candi ini semakin diminati orang. Borobudur di kelilingi bukit Menoreh yang membujur dari arah timur ke barat, dan gunung-gunung berapi, di sebelah timur, gunung merapi dan merbabu, sedang di sebelah barat terdapat gunung  sumbing dan sindoro.

Bangunan Borobudur merupakan hasil akulturasi antara budaya asli Indonesia dan budaya India yaitu perpaduan antara Punden berundak dengan Stupa, antara agama Budha dan agama asli nusantara. Hal ini tentu menunjukkan kearifan budaya lokal nenek moyang bangsa kita yang sangat akomodatif dan kritis terhadap budaya dari luar, inilah watak asli nenek moyang kita. Dalam sejarah para pendahulu bangsa (jaman Hindu/Budha) belum pernah ditemukan adanya konflik dalam masyarakat yang disebabkan karena agama. Borobudur seolah memberi gambaran keteduhan untuk siapapun.

Arti Borobudur
Sampai saat ini belum diketahui secara jelas arti Borobudur.Menurut Prof. Dr. Poerba Caraka, Borobudur berasal dari kata Baradan Budur. Bara berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Vihara yang berarti kompleks Candi dan Bihara atau asrama. Sedangkan Budur sama artinya dengan Beduhur (Bahasa Bali) yang artinya diatas, jadi nama Borobudur berarti asrama atau Bihara / kelompok candi yang terletak diatas bukit. 

Pendapat lain dikemukakan oleh J.G. Cas Paris, berdasarkan prasasti cri kahulunan[#842 M] disitu disebutkan ada kuil yang bernama Bhumi Sambhara, menurut beliau nama itu tidak lengkap. Agaknya masih ada sepatah kata lagi untuk sebuah ”bukit” di belakangnya, sehingga nama seluruhnya seharusnya ”Bhumi Sambhara Bhudara”. Dari kata inilah akhirnya menjadi kata Borobudur. Sampai saat ini di daerah dekat candi masih ada desa yang bernama Bumi Segara diperkirakan nama itu berasal dari kata Bumi Sambhara. 

Pesan dari Borobudur 
Bagi mereka yang mempunyai ketajaman nurani  pasti mampu menangkap pesan dari nenek moyang lewat bangunan suci ini. Diatas tadi sudah disebutkan bahwa dari bentuknya  saja kita sudah diajari mengenai sikap  toleransi, kritis dan selektif terhadap budaya yang datang. Kita tidak menelan mentah-mentah pengaruh asing yang memang tidak cocok dengan pribadi bangsa. Dari Borobudur kita diajari tentang kejujuran yang mampu menciptakan bangunan yang kokoh dan dari sana pula kita belajar tentang perjalanan hidup manusia. Marilah kita tengok sejenak sebagian sisi dari Borobudur. Bangunan ini mempunyai tiga tingkatan yang utama yaitu Kamadatu, Rupadatu, dan Arupadatu. 

Kamadatu
Pada tahap ini manusia belum mengenal aturan hidup yang baik, manusia merupakan srigala bagi yang lain (homo homini lupus belum om nium contra amnes) selain itu manusia juga masih mengumbar hawa nafsu, mereka belum bisa mengendalikan hawa nafsunya. Pada tataran ini manusia belum mengenal ajaran suci maka perbuatannya mengikuti kemauannya sendiri, manusia mirip binatang. 

Rupadatu
Pada tataran ini manusia sudah mulai mengenal ajaran suci, hidupnya sudah mulai teratur karena sudah bisa membedakan halbaik dan hal buruk, walaupun masih berada di dunia. mereka sudah mampu mempergunakan barang-barang dunia secara benar. Pada taraf ini manusia sudah bisa mengendalikan hawa nafsunyasecara baik. 

Arupadatu
Ini merupakan puncak  tertinggi pada candi Borobudur. Pada tataran ini manusia sudah tidak lagi memikirkan keduniawian, ibaratnya alam ini adalah alam Dewata yang penuh ketenangan, ketentraman yang tiada tara. Sembah manusia pada Hyang Maha Kuasa sudah mendapatkan jawabannya, disitulah terjadinya“Manunggaling Kawula Gusti”, bersatunya manusia dengan Tuhan. 

Ketika kita sampai pada puncak Borobudur ini, rasanya kita tidak mau turun karena kita sampai pada suatu tujuan dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Di sanalah kita bisa berkomunikasi dengan sang pencipta secara sungguh-sungguh. Hal ini memberi pelajaran kepada kita jika  mau bertemu dengan sang pencipta  kita tidak boleh terbelenggu oleh keduniawian, barang siapa yang batinnya masih dihinggapi sifat rakus, egois, tamak dll tidak akan pernah bertemu dengan sesembahannya. 

Penutup 
Setelah kita melihat dan belajar dari Borobudur kita juga bertanya. Sekarang ini kita hidup di alam yang mana? Kamadatu, Rupadatu, atau Arupadatu? Saat ini kita hidup di dunia yang penuh nilai, banyak tawaran yang ditawarkan pada kita, semua mengaku yang paling baik, ibaratnya kita masuk kedalam pasar moral dan agama, kadang-kadang kita sampai bingung  memilih karena semuanya baik. Namun kadang kita juga kecewa karena sekarang ini  banyak  manusia yang hidup pada tataran Kamadatu, seolah mereka tidak mengenal ajaran suci itu. Banyak diantara mereka yang hidupnya mengabdi pada Mamon [harta dan kekuasaan]. Manusia masa kini cenderung menghalalkan segala macam cara untuk meraih cita-citanya, tidak peduli cara mereka menabrak nilai-nilai luhur yang  diajarkan oleh agama dan telah menjadi jati diri bangsa, bahkan lebih hebat lagi mereka mampu membungkus tindakan-tindakan biadab mereka dengan kata-kata suci dan logis. 

Borobudur sebuah karya manusia yang telah mengetahui “sangkan paraning dumadi” [asal dan tujuan hidup manusia]  memberi pelajaran kepada kita bagaimana  hidup  beradab, jauh dari korupsi, kolusi, nepotisme dan konflik SARA [suku, agama, antar golongan]. Melalui Borobudur   kita dapat merenungkan  kehidupan dahulu dan sekarang,  manusia zaman dahulu  mampu membuat karya  menakjubkan. Karya mereka sungguh mengangkat harga diri bangsa kita menjadi manusia yang berharga dan mempunyai martabat yang tinggi dihadapan bangsa lain. Karya agung seperti Borobudur tidak hanya dikerjakan dengan akal pikiran semata, tetapi Borobudur didirikan di atas cinta kasih sejati, cinta manusia kepada sang Pencipta. 

Candi Borobudur merupakan bentuk kokohnya mental manusia waktu itu, manusia yang belum terkooptasi oleh kejahatan. Jiwa mereka masih bersih, kecintaan  mereka kepada sang Pencipta mereka wujudkan dalam bentuk karya besar. Arca-arca Budha yang megah dan Agung, juga relief-relief yang terpahat pada dinding candi Borobudur yang  bercerita tentang keutamaan hidup manusia, seolah mengajak kita untuk selalu mengedepankan nilai-nilai luhur, meskipun gangguan dan godaan selalu ingin menggagalkan terwujudnya nilai-nilai luhur itu. Sang Prabu Samaratungga dari dinasti Syailendra seolah ingin membisikkan kepada generasi sekarang ”Aku tahu kepada Siapa aku mengabdimaka inilah persembahanku kepada negeri juga kepada  pencipta langit dan Bumi” 

Agustus 2010
R. BAMBANG SUNGKONO
SMAK Ricci 1 -

PEMIMPIN YANG IDEAL



  Rama Wijaya

Sebelum Rama Wijaya meninggalkan tahta Ayodya untuk  pergi bertapa ke hutan, tahta kerajaan diserahkan kepada adiknya yang bernama Barata. Kata Rama kepada adiknya ”Adikku Barata, tahta kerajaan kuserahkan kepadamu, perintahlah rakyat Ayodya dengan adil bijaksana dan penuh cinta”. Jawab Barata, ”Baiklah kakanda Rama, aku akan laksanakan seluruh titah kanda Rama Wijaya, namun sebelumnya perkenankanlah adinda mohon petujuk mengenai cara memimpin yang baik”. Jawab Rama, “Adikku Barata, sebenarnya sang pencipta telah memberi teladan yang baik melalui alam semesta. Seorang pemimpin yang baik harusmemiliki sifat seperti Matahari, Bulan, Bintang, Awan, Angin, Samudra, Bumi, dan Api”. 

Matahari
Matahari memiliki sifat panas, tetapi panas matahari memberi hidup bagi segala makhluk hidup yang ada didunia.Pemimpin yang memiliki sifat matahari adalah pemimpin yang mampu memberi kekuatan dan menghidupkan suatu organisasi yang dia pimpin. Seandainya organisasi itu dalam keadaan sekarat kemudian muncul seorang pemimpin yang seperti matahari maka organisasi kembali hidup dan bergairah seperti mendapat tenaga baru. Matahari juga menjadi simbol keiklasan tanpa pamrih dia menyinari dan memberi energi kepada dunia tanpa mengharapkan imbalan. Pemimpin yang berwatak matahari adalah pemimpin yang hanya selalu memberi kepada yang dia pimpin,tidak pernah memanfaatkan kedudukannya untuk kepentingan pribadinya. 

Bulan
Bulan itu munculnya ketika malam hari,artinya seorang pemimpin harus bisa memberi penerangan ketika anak buahnya mengalami kegelapan.Bukan sebaliknya pemimpin malah bikin bingung anak buahnya. Dia harus memiliki rasa asah, asuh dan asih terhadap anak buahnya yang sedang mengalami masalah.Pemimpin yang berwatak bulan akan selalu memberi bimbingan kepada anak buahnya tidak hanya menyalahkan kerja anak buahnya yang kurang baik. 

Bintang
Ketika seorang nelayan berlayar di tengah samodra dan mengalami kebingungan maka nelayan itu akan mencari bintang yang bisa dipakai sebagai petunjuk arah. Ini berarti seorang pemimpin harus bisa dipakai sebagai pedoman segala tingkah lakunya. Pemimpin harus senantiasa memegang teguh “Sabdo pendito ratu” (Sabda Brahmana Raja). Sabda seorang raja menjadi udang-undang negara.Sedangkan brahmana adalah wakil Tuhan di dunia,oleh karena itu pemimpin harus memiliki watak ksatria dan sekaligus berwatak brahmana dengan kata lain satrio manjing pendito atau pendito manjing satrio.Artinya pemimpin tidak boleh berubah-ubah perkataannya (mencla-mencle),keputusannya konsisten dan konsekuen. Ucapan tindakan harus sinkron, “Ingngarso sung tulodo ingmadyo mangun karso tutwuri handayani” (di depan memberi teladan, di tengah membangkitkan semangat, di belakang memberi kekuatan). Bukan sebaliknya “ingngarso mung carito ing madyo numpuk bondo tutwuri hanyrimpeti (di depan hanya bercerita di tengah hanya mengumpulkan harta atau korupsi di belakang membikin kacau). 

Awan
Awan memiliki wajah yang menakutkan, kelihatannya hitam membikin suasana mencekam, namun ketika awan turun menjadi hujan bisa menghidupi para petani karena tanaman mereka menjadi tumbuh. Seorang pemimpin harus mempunyai kewibawan. Kewibawaan itu bukan karena berasal dari kekuatan yang dia miliki atau wajahnya yang serem, jika ini terjadi bukan kewibawaan tetapi pemimpin itu menakutkan. Kewibawaan  ini muncul dari apa yang dia lakukan untuk rakyat, seperti halnya air hujan yang bermanfaat bagi umat manusia khususnya petani, artinya setiap tindakan yang dilakukan pemimpin itu selalu menguntungkan rakyat atau seluruh kebijakannya selalu pro rakyat. Inilah pemimpin yng disegani dan berwibawa. 

Angin
Sifat angin adalah mampu berada disegala ruang bisa lebar, sempit bahkan masuk perutpun bisa. Pemimpin harus seperti angin artinya mampu berkomunikasi dengan siapa saja, tidak pernah membeda-bedakan ras, kedudukan, pangkat, agama, status sosial, dan lain-lain. Dengan kata lain pemimpin harus bisa manjing ajur ajer di tengah rakyat yang dipimpin. Dia harus memiliki jiwa pluralisme dan mampu memberi keteduhan sertaketenangan bagi siapa saja. 

Samudra
Sifat samudra tidak akan menolak aliran air dari manapun, semua ditampung. Dalam suatu organisasi pasti ada keluh kesah dari anak buahnya, pemimpin harus menerima segala persoalan anak buahnya, kalaupun ada yang bersifat rahasia pemimpin harus bisa memegang teguh rahasia itu, artinya pemimpin menjadi tempat berlabuh dari segala macam persoalan yang dipimpin. 

Bumi
Bumi mempunyai sifat sentosa, kuat menyangga seluruh apa yang ada di atasnya tanpa mengeluh. Pemimpin di tuntut selalu kuat dan tabah dalam menghadapi persoalan tidak boleh cengeng apalagi frustasi sehingga rakyat yang dipimpin merasa nyaman dan aman karena selalu bersandar pada pemimpin yang kuat. 

Api
Api nyalanya tegak dan siap membakar apapun yang ada di dekatnya seperti  kayu, besi, batu, kertas, dan lain-lain. Maksudnya seorang pemimpin harus bersifat adil tidak boleh pandang bulu. Siapapun yang bersalah harus ditindak tegas.Jangan sampai suatu aturan hanya berlaku pada anak buahnya, tetapi tidak pada dirinya dan kroninya.
Selain kedelapan sifat di atas seorang pemimpin dituntut bersikap “berbudi bowo leksono” (meluap budi luhurnya) dan “ambeg  paramaarta” (mendahulukan mana yang perlu didahulukan).      

September 2010
R. Bambang Sungkono
SMAK Ricci 1 -